Karena ini Saatnya ‘Sabtu Bersama Bapak’

13767282_10208123397181826_8319197883241906775_o

(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Darimana saya harus memulai? Sudah sedari lama saya ingin me-review tentang buku dan film happening ini, apalah daya saya emang orang yang sok sibuk. Baru hari ini tepat di hari sabtu saya dapat meluangkan waktu.

Saya pikir buku ini akan membuat saya nangis tiada henti ketika selesai membacanya, ternyata justru yang melekat setelahnya adalah buku ini buku lawak. Kurang ajar juga saya menerjemahkan penyampaian buku ini hahaha. Bagaimana tidak? Sang penulis mendeskripsikan semua tokoh dengan baik, terutama anak buah-anak buah dari Deputy Director Saka. Masya Allah sungguh mereka itu luar biasa lawaknya. Antara menyayangi bos dan kurang aja itu beda tipis. Pesan saya, kalian mesti berkenalan dengan tokoh Wati dan Firman!

Hal-hal yang amat baik dari buku ini dan amat saya sukai adalah tips dan trik dalam masalah mendidik anak. Banyak hal yang bisa dipetik dan disimpan, buat kelak setelah saya berkeluarga AHAY! Contohnya saja seperti ini

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua untuk semua anak-anaknya”

Mengena banget di saya, karena saya adalah anak sulung saya merasa beban ketika orangtua saya mengatakan ‘Mba kamu harus jadi contoh buat adek-adeknya’. Saya tidak mengeluh karena menurut saya itu harus. Saya harus menjadi pribadi yang baik , buat saya pribadi buat orangtua saya dan buat adik-adik saya. Tapi setelah membaca buku ini dan membaca sepenggal cerita itu, mata saya terbuka. Saya setuju bahwa contoh itu bukan dari si sulung tapi dari orangtua. Semua anak berkewajiban untuk melakukan yang terbaik dari dirinya, untuk mereka sendiri dan untuk orang lain. Tapi bukan berarti memiliki tanggung jawab sebesar itu.

Selain pesan-pesan Bapak, saya suka sisi romantisme dari buku ini. Seperti yang Saka sering lontarkan untuk ‘gombalin’ Ayu, untuk mendapatkan cinta dari pujaan hatinya. Padahal ia sendiri Gembel Cinta, hahaha.

“Terima saya, jika kamu lihat bahwa saya adalah perhiasaan dunia dan akhirat yang baik untuk kamu. Karena kamu adalah perhiasaan dunia dan akhirat untuk saya”

Jadi wanita mana yang engga lemes dinyatain cinta kayak begitu? Gombal tingkat dewa tapi tapii tapiii itu indah. Yang jelas, kalau saya jadi Ayu saya langsung ngangguk-ngangguk aja kayak abis dihipnotis. Terlena *dasar wanita!

Untuk review filmnya, saya sendiri sudah menduga bahwa filmnya akan lebih bagus dan lebih baper dibanding bukunya. Sesuatu yang jarang saya setujui apabila film diangkat dari novel. Mungkin karena buku ini terlalu tipis, mungkin karena penulis skenarionya adalah penulis buku ini sendiri. Yang manapun itu, saya kasih empat jempol untuk film ‘Sabtu Bersama Bapak’.

Alur dalam film walaupun terjadi beberapa perubahan, tapi saya yakin ini untuk penyesuaian dalam pembuatan film, tidak merubah esensi dari isi buku. Malah menjadikan film ini lebih baik, lebih menyatu, lebih memikat. Film ini juga jauh lebih lawak dari bukunya. Tetap dengan anak buah-anak buah Saka yang kurang ajar, dan bahkan tingkah Saka sendiri yang luar biasa erornya. Mungkin bagi kalian yang sudah nonton ingat dengan dialog

“Saya mau makan kamu siang-siang”

Emang dasar gembel! Mau ngajak makan siang aja sampe belibet gitu ngomongnya. HAHAHAHAHAHAHAHA

Yang amat mengena dari film ini dan tidak ada di buku adalah adegan Bapak dan Ibu Itje saat Bapak masih ada.

Ibu Itje : Nanti Kakang bakal rindu saya?

Bapak : Apa ada di kamus, kata yang melebihi dari rindu?

Ibu Itje : *menggeleng* Tidak ada

Bapak : Berarti saya tidak bisa jawab pertanyaan kamu

Yuhuuuuuuuuuu!!!! Gombal gembelnya Saka itu turunan ternyata kawan! Bapak-ke juga begitu ternyata. Gombalnya cukup. Cukup bikin hati ini bergetir nyeri-nyeri, senyum-senyum meringgis gitu.

Sudahlah bapernya kebanyakan. Bagi kalian yang masih ragu akan karya anak bangsa yang satu ini, saya patut sarankan untuk menikmatinya. Kapan lagi kita menghargai karya anak bangsa? Kapan lagi kita mencintai karya anak bangsa? Kalau bukan sekarang. Dan yang terpenting kalau bukan KITA, siapa lagi?

 

Satu lagi dari saya, yang perlu kalian semua ketahui

Bapak Sayang Kalian!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s