Hujan Di Kala Hujan

Saya adalah pecinta karya Tereliye, bagaimana pun bentuknya, bagaimana pun jalan ceritanya saya selalu suka. Selalu jatuh cinta. Karena di setiap cerita-ceritanya saya menemukan hal baru, saya belajar hal baru. Tapi itu memang terjadi di setiap masing-masing novel yang saya baca, walaupun dengan efek yang berbeda-beda.

Kali ini Tereliye mengambil hujan sebagai tema bahkan judul untuk novel terbarunya. Sangat pas di kala negeri ini memasuki musim penghujan setelah kemarau yang amat panjang tahun lalu. Ini seperti oase, tidak sedikit penulis yang mengambil tema ini pada buku-buku terbarunya. Situasinya sesuai dan sangat pas berdampingan dengan cuaca hingga suasana hati.

Ekspetasi saya terhadap buku ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Saya pikir dengan judul yang hanya satu kata dan cover yang amat memikat walau amat sangat sederhana akan membuat novel ini sesederhana itu. Seperti ‘Bidadari-Bidadari Surga’, ‘Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah’ atau pun ‘Rindu’ yang mengambil latar belakang sederhana namun mengena di hati para pembaca. Tereliye amat pandai mengembangkan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Tapi ternyata itu tidak terjadi pada Hujan. Latar cerita diambil seperti novel science fiction yang sudah-sudah. Tentang kehidupan manusia di masa depan, tetap dengan keserakahan yang selalu menemani sifat-sifat dasar manusia. Bukan berarti saya tidak suka, saya sangat suka malah. Berimajinasi tentang masa depan itu selalu mengasyikan. Hanya saja, saya tidak akan menduga ternyata tidak sesederhana itu. Walaupun dengan pesona yang sedikit berbeda namun ‘Hujan’ masih menampilkan kekuatan novel khas Tereliye. Tentang cinta pertama, tentang cinta diam-diam, tentang sakit hati hingga tentang artinya memiliki.

Meskipun ‘Hujan’ tidak semanis ‘Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah’ tapi saya tetap suka alur cerita yang disampaikan oleh penulis. Banyak hal-hal yang tetap bikin senyum malu-malu mungkin karena mengingat tentang cinta pertama, hal-hal yang patut ditertawakan dengan lelucon khas gaya sang penulis. Saya selalu menyukai cerita cinta Tereliye, karena jenis cinta yang ditampilkan penulis berbeda dengan novel-novel pada umumnya. Walaupun novel Tereliye bukanlah novel islami yang selalu menampilkan sisi keislaman namun novel Tereliye selalu menjaga agar tidak melewati batas-batas keislaman. Seperti ‘Hujan’ ini, mencintai seseorang bukan berati harus mengungkapkan sedemikian rupa dan kemudian saling memamerkan seperti yang sering terjadi di jaman seperti ini. Keindahan cinta Tereliye justru selalu berasal dari menyakini cinta hanya untuk diri sendiri. Bertemu satu dua kali tak masalah, itu sudah bikin mabuk kepayang. Hanya saling tukar cerita atau bahkan senyum pun sudah bikin sakit kepala. Rindu itu tak perlu diperlihatkan, rasanya perih namun tetap dinikmati. Hal-hal seperti ini lah yang selalu saya suka. Bahwa mencintai seseorang bukan berarti harus saling menyatakan cinta kemudian jadi berzina. Cinta yang diberikan Allah selalu indah, selalu nikmat. Dan Tereliye mengolah kenikmatan itu menjadi sesuatu yang aman dan tidak menjadi haram. Alur cerita yang maju mundur juga membuat para pembaca penasaran untuk terus membaca halaman demi halaman. Gaya cerita flashback memang selalu membuat kita ingin terus menikmati cerita ini.

Hal lainnya yang saya suka dari novel ini adalah keberadaan tokoh pendamping, Maryam. Saya suka Maryam, seperti mengangumi. Berkebalikan dengan tokoh utama, Lail, Maryam selalu enerjik dan mewarnai suasana. Memang benar kata orang-orang, kita membutuhkan seseorang yang berbeda dengan diri kita untuk memberi warna dalam hidup kita sendiri. Dengan segala tingkah laku Maryam, ‘Hujan’ menjadi lebih terasa humor. Karena tokoh Lail sendiri adalah orang sedikit pendiam. Namun, saya tetap menyukai Lail dengan segala kesederhanaannya. Lail adalah sesosok tokoh perempuan muda yang tangguh. Tersakiti dengan masa lalu yang menyedihkan, menemukan sosok sang superhero, dan kemudian mencintai seseorang diam-diam itu berat tapi dia bisa melaluinya dan berujung indah. Kesederhanaan Lail ini diperkuat dengan adanya Maryam. Kehebohan Maryam adalah sesuatu yang amat berharga dalam mengembangkan tokoh Lail. Walaupun Maryam adalah tokoh yang bersifat seenaknya namun justru kata-kata indah mengalir dari mulut Maryam. Terdapat beberapa quotes yang Tereliye sampaikan melalui Maryam, seperti :

” Kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya “

Atau seperti ini :

” Orang kuat itu bukan karena memang kuat, melaikan karena ia bisa lapang melepaskan “

Tidak terlepas dari kelebihan-kelebihannya, novel ini tetap memiliki kekurangan. Salah satu hal yang menjadi kekurangan terbesar adalah bahwa saya tidak menangis selama membaca novel ini. Biasanya saya selalu menitikan air mata, entah untuk kebahagian atau untuk kesedihan. Novel ini sedih namun tidak sesedih itu, novel ini hanya membuat saya hanyut namun tidak memporak-porandakan. Hanya cukup. Sesuatu yang tidak biasanya terjadi untuk novel karya Tereliye. Hal lainnya yang saya catat adalah kekurangtelitian sang penulis dalam menyampaikan detail cerita. Dengan latar belakang yang sudah amat sangat canggih di masa depan, tetapi masih terdapat beberapa ketidaksesuaian. Seperti adanya toren air di latar cerita. Helow! Di jaman bahkan mobil sudah bisa terbang mengapa menampung air masih dengan toren air berwarna oranye? Mungkin ini hanya sekedar lewat jadi penulis kurang menyadari. Sesuatu yang janggal lainnya adalah waktu tempuh perjalanan kereta api yang bahkan sudah tidak menempel pada relnya masih terlalu lama. Tereliye memang tidak pernah memberikan lokasi yang jelas dalam tiap-tiap bukunya, namun apakah waktu yang harus ditempuh kereta itu masih harus 6 jam perjalanan? Mungkin jarak itu kalau dibayangkan dengan keadaan yang sekarang seperti dari Sumatra hingga tanah Jawa yang jaraknya memang terlalu jauh. Tapi entahlah menurut saya 6 jam masih terlalu lama untuk perjalanan kereta api masa depan.

Tapi bagaimana pun juga, saya adalah pencinta Tereliye. Selalu jatuh cinta dengan cerita-cerita yang disampaikan. Pesan moral saat selesai membaca selalu nyangkut di hati saya. Seperti ‘Hujan’ teman yang cocok untuk berbagi kegundahan di kala hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s