Api Tauhid : Novel Perjuangan Baiduzzaman Said Nursi

 

Baru saja saya menyelesaikan buku ini. Buku yang indah, seindah perjalanan Fahmi dkk mengelilingi Turki mengupas lapis demi lapis sejarah yang tersimpan, dan seindah perjuangan Baiduzzaman Said Nursi menengakkan Islam tepat berakhirnya masa kekhalifahan terakhir Utsmani.

Sejujurnya saya agak kecewa terhadap editor buku ini, terlalu banyak kekhilafan sang editor dalam proses menyunting buku. Terlalu banyak kalimat-kalimat dan kata-kata yang kurang pas dalam penyusunan cerita, seharusnya memang editor lebih jeli dalam hal ini. Sampai-sampai teman saya berbaik hati menjadi editor dadakan untuk menyunting kembali buku ini. Terlalu banyak yang dicoret-coret olehnya, benar-benar seperti editor beneran *maaf saya meminjam buku ini dari teman saya tersebut*. Tapi mungkin sang editor pun terlalu terkesima akan cerita Kang Abik hingga lupa untuk tetap menjalankan tugasnya.

Namun, walaupun begitu kesalahan setitik ini tetap tidak merusak kebaikan-kebaikan yang ada. Saya ucapkan Subhanallah dan terimakasih pada Kang Abik yang telah menuliskan buku ini. Selama saya membacanya, saya benar-benar terkesima. Saya merasa buta dan bodoh dan seperti tidak tahu apa-apa selama saya hidup 23 tahun ini. Apa yang saya kerjakan dan saya pelajari selama ini, seperti tidak berguna sama sekali *kecuali membaca Al-Quran dan ibadah-ibadah lainnya*. Saya seperti dibohongi habis-habisan oleh dunia, lagi-lagi hidup ini fana, terlebih lagi hidup di zaman sekarang.

Buku ini menceritakan perjalanan hidup Said Nursi di mulai dari kisah ayah dan ibu nya, Said kecil hingga Said Nursi menjadi sosok yang amat berjasa hingga sekarang. Novel ini menceritakan sejarah dengan gaya yang berbeda, saya menikmatinya, sangat menikmatinya. Tidak hanya tentang tokoh, Kang Abik pun menuliskan secara rinci tempat-tempat kejadian yang berhubungan dengan sejarah Said Nursi tersebut. Selain sejarah yang hebat, novel ini juga mengajarkan tentang adab sehari-hari seperti ghibah, pujian, pernikahan, pertemanan dll. Hal ini disinggung dengan gaya yang unik dan menjelaskan secara singkat sebagaimana seharusnya sikap kita. Banyak doa-doa dan dzikir-dzikir yang dapat kita praktekan sehari-hari, seperti dzikirnya Nabi Yunus

“Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin”

Hal yang paling saya takjubkan setelah membaca novel ini adalah, bahwa ternyata kekhalifahan Utsmani hancur tidak lama dari meletusnya perang dunia pertama. Masya Allah selama ini saya benar-benar tidak pernah tahu bahwa kekhalifahan terakhir masih ada bahkan sesaat sebelum Indonesia merdeka. Itu belum sampai 100 tahun yang lalu kawan, padahal yang saya pikirkan selama ini adalah itu terjadi sudah sangat amat lama. Betapa bodoh dan naifnya saya. Sepertinya saya benar-benar harus banyak belajar tentang sejarah Islam. Bagaimana Islam akan bangkit kalau penganutnya masih saja bodoh dan terlena dengan segala buatan para musuh-musuh Islam? Semoga kita semua selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi Aamiin.

Dan saya berharap Kang Abik atau para penulis-penulis berbudi lainnya dapat menerbitkan oovel-novel seperti ini lagi. Mengupas sejarah Islam dengan cara yang berbeda, sehingga kita dapat menikmatinya dengan lebih baik. Karena tentu banyak sekali pribadi-pribadi yang kurang menyukai sejarah, menvonis bahwa sejarah membosankan dan sebagainya. Tentu itu terpengaruh dari pengajaran sekolah yang monotan dan itu-itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s